#piapulangkampung

Bukan rahasia lagi kalau pandemi bikin satu dunia jadi kebolak-balik.

Ya ampun, nulis kata “pandemi” aja rasanya males. Banyak banget energi negatif yang ditimbulkan kata yang satu ini. However I’m not here to list all the things going wrong by this pandemic because as professor Dumbledore put it:

“Happiness can be found even in the darkest of times, if one only remembers to turn on the lights”

So, let’s turn on the lights shall we?

Lumos!

Light-creation spells | Harry Potter Wiki | Fandom
Continue reading
Standard

Apa ya..

Udah 3 hari aku pilek dan demam. Masih bisa beraktivitas sih, cuma ga enak aja rasanya hidung bunyi suling kalau lagi narik napas. Tinggal ngintip-ngintip di balik pohon sambil joget-joget, jadilah pilem india.

By the way, kalau lagi ga enak badan gini semasa pandemi bikin berfikir negatif terus ya. Apakah aku corona? Bukan, maksudnya bukan aku corona, tapi apakah aku terkena coronavirus disease 19?

Mudah-mudahan sih tidak ya, teman-teman.

Udah minum obat generik 3 kali, tapi kok ya ga sembuh-sembuh. Aku pun mulai heran dan bertanya-tanya. Biasanya dikasih obat sekali langsung hilang pileknya. Kali ini kok susah? Makinlah menjadi pikiran negatif ini. Apakah ini penyakit mematikan itu? Apakah ini akhir hidupku? Sampai disini sajakah nyawa yang dianugera…………….. mulai lebay.

Tetapi ternyata setelah dipikir-pikir *berpose ala the thinker sculpture, penyebab dari ketidaksembuhanku ini bisa jadi karena aku kekeh tetap diet. Biasanya kalau sakit aku bakal makan banyak, minum vitamin, terus bobo. Lha ini ga makan sampe lapeeer banget, alias gimana obatnya bisa tinggal lebih lama dalam perut dan beraksi membunuh virus flu yang rasanya aku tahu kudapatkan darimana ini?

Ditambah lagi kerjaan yang menggunung *lagi lagi lebay, bobo yang kurang banyak, latihan yang cukup stressful, dan seterusnya dan seterusnya. Diawali dengan makan telur rebus, barusan aku sudah minum obat lagi. Semoga kali ini bisa sembuh ya, biar besok bisa bekerja.

Btw aku mengetik ini dalam keadaan handphone mati karena baru saja rusak, perut juga lumayan laper tp dihajar bobo sajalah.. See u guys, and stay healthy muah!

Standard

25

Lagi berbunga-bunga beberapa hari ini. Iya, aku baru menginjak usia 25 *uuuunch. Harusnya sedih karena semakin menua, tapi menginjak seperempat abad ini rasanya hangat dan menyenangkan. Karena aku lagi senang maka aku bakal buat tanya jawab yang pertanyaannya dibuat sendiri dan dijawab sendiri.

IP = Imajinasi Pia ; P = Pia

IP = “Bagaimana nih menyambut usia 25?”

P = “Ya ga gimana-gimana sih, tapi lagi senang aja. Ulang tahun kemarin, tapi kado dan ucapan masi dtg sampe sekarang. Sebenernya kalau mau dibilang ‘birthday person’, ya aku orangnya seperti itu. Seneng dengan affection yang datang di hari itu. Gimana pun kan kita ingin disayang dan ditunjukkan perhatian dari sesama, apalagi aku cancer hehehe~”

IP = “Ngapain aja pas birthday?”

Continue reading
Standard

About Being Vocal

Looking back to my Quora page – in which I last wrote in 2018 – I was quite vocal compared to how I am now. A lot has changed since, but boy, was I never afraid to opine what patchy knowledge I had then.

I seemingly didn’t put so much thoughts on the gray are I might miss when answering questions, but I didn’t judge my writings they way I do to myself now. I was naïve, and quite brave to put my hot takes on the page, to say the least.

Continue reading
Standard

can i just listen to it, peacefully

Sejauh kuingat, menulis ga pernah sekalipun jadi beban buatku. Justru di tengah plummetnya mental health, hobi ini jadi salah satu coping mechanisms yang kulakukan biar bisa tetap waras. Pun dengan membaca. Keduanya tak pernah jadi beban untukku. Aku bisa baca bacaan yang berat sekalipun dengan senang hati, berjam-jam, bahkan dengan penerangan yang kadang tidak baik. I always do them with all my heart.

Ternyata cerita berlawanan datang dari bermain musik. Untuk tetap sanggup lanjut, aku harus set up waktu tertentu dan kasih reward ke diri sendiri setelah sesi berlatih. Sejujurnya, kebanyakan aku merasa terpaksa, merasa gagal dan banyak perasaan negative lainnya.

Continue reading
Standard

Happy Ending

To Aman,

This image has an empty alt attribute; its file name is image.png

For 21 years, we’ve been celebrating Rahul and Anjali love story. The kind of story where love conquers all. The kind where you fight for someone you love, no matter the obstacles. The kind where you chase that special someone, even on her wedding day.

Their friendship and fights are adored by many, the perfectly fitted duo who share the same sense of humor; comical college best friends that is. We’ve been told that love is being best friends; while being best friends may turn to be love one day.

Continue reading
Standard

Arts

“How could you be so depressed; you have so many things you should be grateful of?!”

“Why are you spreading negative vibes, there are a lot of people out there wanting to be like you?!”

            There’s a tacit agreement in the society that one can’t complain if they don’t live in a gutter. They supposed to be all happy; being kind and cheerful is not only necessary, but more of a compulsion. To wail with pain is a big turn off, having positive attitude towards everything would be one of the skills you should own by the time you turn seventeen.

            After all these precepts, there is yet another man in me, not the physical, but the personal half; who senses everything on her way, sensitive and wants to find something (or someone) to fill her void longing of love. When she’s not writing poems about trees, mountains and valleys, she ponders the meaning of life. This personal me shows emotions overtly. She’s never scared of saying love – her pleasure and displeasure, fear and anger, they are relevant and accepted. She’s the epitome of a free man, this time the actual definition of being free of all prejudices.

            She likes to be alone, this time without the judgment coming that she’s a loner. Whatever crosses her mind, she never question them; be it right or wrong, acceptable or not, appropriate or highly unpleasant. In her place, all emotions are welcomed and embraced.

Continue reading
Standard

Bahasa Pilihan

Walaupun tidak jago Bahasa Inggris, seringkali saya lebih suka menulis dalam bahasa tersebut. Selain untuk latihan, banyak kesan dan pesan yang rasanya kurang tersampaikan jika menulis dalam Bahasa Indonesia; yang mana sebenarnya disebabkan oleh kurangnya kosakata sendiri. Tersebut terakhir menjadi kian parah karena sumber bacaan saya dalam Bahasa Indonesia sangat sedikit. Pengarang Indonesia yang saya tahu jumlahnya bisa dihitung. Kalau ditanya siapa pengarang nasional favorit saya, tentu saja N.H. Dini. Meskipun beliau punya gaya menulis yang bagus dan saya punya beberapa nostalgia sejak Sekolah Dasar membaca karya-karyanya, tapi memang referensi saya untuk menulis dalam Bahasa Indonesia hanya bersumber dari beliau. Sungguh miskin sumber literasi.

Continue reading
Standard

Sleep and Anxiety – end

*tick* *tock* *tick* *tock*

M O O N V E I N S 1 0 1 #time #red #nosleep | Black aesthetic

(Gue akan menutup series Sleep and Anxiety disini. Kenapa? Karena sudah ga sleep deprived lagi hehehe)

Half of the cause of my sleep disorder carefully explained in two of my last posts. I made a brief hindsight of what made me lose sleeping pattern – and as I wrote on the prior piece, it’s due to what’s going around in the world lately. I will not write about the technical stuff regarding to the virus, I’m clearly not one capable of doing so. Let’s leave it to the health pundits and let’s make this writing, albeit posing as journalism, easy.

Continue reading
Standard